Friday, 24 August 2018

Pengabdian Masyarakat Dosen BSI Kepada Tenaga Fresh Greduate Yogyakarta

07:59
Penyampaian Materi Kepada Peserta Pelatihan
Yogyakarta – Kegiatan wajib dosen yakni  pengabdian masyarakat dilaksanakan oleh BSI di Yogyakarta Kota tepatnya di Jalan Namburan Lor No.8 Panembahan Kraton, Yogyakarta yang di laksanakan oleh dosen dari kampus BSI Yogyakarta. Kgiatan ini dilaksanakan mulai pukul 09.00 – hingga pukul 11.00 di ruang pertemuan PT. Mataram Unggul Tehnik Yogyakarta yang dihadiri oleh 5 orang pegawai, kegiatan dimulai dengan meriah oleh Anastasia Meliyani, M.Kom sebagai MC. Setelah pembukaan acara, acara selanjutnya adalah sambutan. Sambutan di isi oleh owner PT. Mataram Unggul Tehnik, kemudian dilanjut dengan pemberian materi mengenai pemahaman dan praktek Manajemen Pemasaran. Setelah acara ini, dilanjutkan dengan sesi diskusi selama 15 menit.

Kegiatan ini disambut baik oleh para peserta, hal ini dapat dilihat dari antusias dan keaktifan para peserta sepanjang rangkaian kegiatan. Pada awal kegiatan diadakan pre-test untuk mengetahui sejauh mana kemampuan masyarakat dalam melakukan penjualan, kemudian di akhir acara juga dilakukan post-test untuk membandingkan pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah dilakukan edukasi. Kegiatan berjalan dengan lancar sampai akhir acara, kegiatan ini ditutup dengan diskusi  mengenai kiat penjualan yang efektif dan efisien.

Tuesday, 24 April 2018

Youth Camp: Servant Heart, Soldier Attitude!

17:44
Peserta Youth Camp 2017

Servant Heart, Soldier Attitude! 

Dipersiapkan menjadi prajurit-prajuritnya Kristus yang memiliki hati untuk melayani orang lain, setidaknya itu salah satu goals dari Youth Camp. Iya, Youth Camp: sebuah rangkaian acara camp yang ngga cuma sekadar lalalala yeyeye hahaha hihihi, tapi lebih dari itu. Sejak muda alangkah lebih baik kalau kita memiliki karakter seperti karakternya Kristus. Nah, di sinilah tempatnya karakter kalian mulai dibentuk, kalian ditempa melalui semua acaranya. 

Salah satu kelompok Youth Camp 2017
Salah satu hal yang sama-sama didapat oleh semua peserta Youth Camp 2017 yaitu RESPON. ​Hm, respon yang seperti apa? Seperti salah satu motto Youth Camp 2017 “Saat situasi tidak benar, saya tetap berespon benar. Saat orang lain tidak benar, saya tetap berespon benar.”, berat? Memang. Berat. Awalnya memang berat, ngga dalam sekali diberi lalu kita memiliki respon yang benar. Butuh berkali-kali dulu baru kita memiliki respon yang benar. Ngga cuma itu, kita juga belajar untuk menghormati pemimpin, ngga nyalahin pemimpin benar tidak benar situasinya. Ngga cuma dengan pemimpin saja, kita juga belajar menghargai saudara-saudara kita, belajar untuk mempercayai mereka, belajar berjaga-jaga untuk mereka, banyak hal deh. 

Tentunya goal-goal yang ingin dicapai dalam Youth Camp ini disampaikan dengan cara yang menarik, melalui simulasi-simulasi untuk memudahkan kalian menangkap nilai-nilai tersebut. Tenang, kalian ngga melakukannya sendiri kok tetapi berkelompok. Jadi lebih ringan, kan? Nah, di sini ditekankan yang namanya  kerja sama tim, belajar untuk menekan ke-aku-an, tentunya juga saling mengandalkan dan saling mempercayai satu sama lain. Pokoknya beri diri untuk mau dibentuk ya.

Pengen ngerasain langsung gimana serunya Youth Camp? Jangan khawatir! Youth Camp 2018 ​akan dilaksanakan pada tanggal 10-12 Mei 2018. ​Ayo segera daftarkan diri kalian, karena pendaftaran akan ditutup pada tanggal 29 April 2018. ​Biayanya hanya Rp 65.000,- loh, kalian akan mendapatkan kaos dan pengalaman-pengalaman yang ngga akan kalian dapatkan di tempat lain! Tunggu apa lagi? See you IGers!

Youth Camp 2017

For further information: 
Sefty (0878-9448-9339) 
Desfitri (0812-2567-0298) 
atau 
Instagram dan OA Line @igjogja

Thursday, 1 February 2018

Jangan Katakan Cinta, Kalau Tidak Bersedia Mengasihi

19:09

Holaa, sobat IGers! Apa kabarnya nih? Pasti luar biasa selalu kan ya? Hehe :P. Nah, kali ini kita mau sama-sama belajar hal yang menjadi dasar dalam memulai suatu hubungan. Wahh, penasaran seperti apa? Yukk, simak ulasannya dibawah ini yaaa J

Seringkali kita mendapati seseorang dengan mudahnya mengatakan “aku cinta kamu” atau kalau dalam Bahasa Jawa nya “kulo tresno karo koe”. Kadang ucapan itu terlontar dengan perasaan tulus dari dalam hati kita untuk orang yang kita kagumi atau yang kita sukai. Tidak jarang pula, kalimat itu membuat kita merasakan getaran cinta yang sangat kuat, sehingga pipi merona bukanlah hal yang biasa bagi kita yang terkadang rasanya ingin melayang sehabis mendengar kalimat itu terucap oleh orang yang kita kagumi atau kita sukai. Apalagi bagi kita yang mungkin sudah lama memiliki perasaan yang sama dengan orang tersebut. Hati kita mungkin akan ‘dagdigdug’ tak menentu, sehingga perasaan kita tanpa perintah sudah bergerak maju mendahului logika kita.

            Banyak pula orang berkata bahwa kesempatan tidak datang dua kali, jadi kita memutuskan untuk membalas perasaan tersebut tanpa menyadari apa kewajiban dan tanggung jawab kita setelah berproses menjalani suatu hubungan. Hei sobat, mungkin kadang kita lupa bahwa perasaan yang menggebu-gebu tidak akan menghasilkan hubungan yang sehat. Wajib hukumnya untuk kita anak-anak Tuhan menyadari betul bahwa cinta tidak melulu tentang membalas perasaan yang sama dan memiliki kesiapan untuk melangkah ke tahap serius. Karena kadang, waktu adalah salah satu penguji bahwa perasaan kita apakah berasal dari Tuhan atau dari hawa nafsu belaka.

            Dalam menjalani hidup tentunya kita harus melibatkan Tuhan Yesus di dalamnya. Apapun ruang dalam hidup kita, sudah sepatutnya kita berdiskusi dengan Tuhan apakah langkah kita tersebut benar dan menyenangkan hati Tuhan atau hanya ikut-ikutan eforia orang-orang disekitar kita. Pahamilah, bahwa memiliki gebetan bukan hal yang membanggakan. Tapi siapa yang selalu dekat dengan-Nya dan melakukan kehendak-Nya, itu adalah perbuatan yang keren. Mungkin banyak diantara kita mengartikan bahwa melakukan kehendak Tuhan selalu erat kaitannya dengan hal-hal yang kelihatan seperti mengambil bagian di pelayanan dan komunitas kita. Melakukan kehendak Tuhan tidak sebatas tentang hal-hal yang besar. Namun kita belajar dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Sebab, Tuhan saja mengajarkan pada kita dalam (baca kitab Matius 25:21) untuk setia pada perkara kecil terlebih dulu.

            Begitupula dalam menjalani hubungan, perkara kecilnya adalah siapkah kita mengasihi pasangan kita? Kasih tidak menuntut. Dan kasih tidak pernah berbicara tentang keegoisan. Tapi kasih berbicara tentang kata ‘saling’. Satu kata yang penuh makna namun kadang sulit untuk dilakukan. Kasih pun kadang akan tidak tepat apabila disama-ratakan. Karena bentuk kasih beragam, didalam Alkitab kasih terbagi menjadi 4 jenis. Ada kasih Filia, kasih Eros, kasih Storge dan kasih Agape. Dalam hubungan yang spesial dengan lawan jenis, kasih yang dimaksud adalah kasih Eros (romantic love). Namun keempat jenis kasih ini harus disertai dengan kasih Agape yang adalah kasih yang diberikan Tuhan bagi kita, secara totalitas dan tidak egois. Penerapan akan keempat kasih ini juga harus tepat, karena setiap hubungan tentu memiliki batasan agar kita tetap berada dalam rule Nya yang benar, baik hubungan dengan keluarga kita, hubungan dengan teman atau sahabat kita dan dengan orang yang spesial bagi kita.

            Jangan pernah katakan cinta jika kita belum siap mengasihi orang yang kita cintai, pernyataan ini adalah hal yang tepat disaat kita mempertanyakan mengapa hubungan kita cuman biasa-biasa saja, atau mungkin kadang hambar. Karena sesungguhnya, standar hubungan yang sehat adalah seperti hubungan Tuhan kepada kita. Dengan terlebih dulu mengasihi kita menjadikan dasar hubungan kita denganNya menjadi kokoh sehingga Dia ga pernah berubah, sebab Dia pribadi yang setia. Hal tersebut juga harusnya menjadi teladan kita saat memilki hubungan dengan oranglain. Mengasihi adalah kunci utama, bukan sekedar perasaan dan ungkapan cinta. Kesiapan hati kita untuk menetapkan waktu sesuai kehendakNya dan kesiapan kita untuk beredia selalu mengasihi sekalipun tidak dikasihi adalah hal yang wajib kita lakukan. Maka dari itu sobat, pikirkan dengan matang sebelum mengambil tindakan. Karena langkah mu menentukan proses serta hasil yang akan kamu terima kelak. Percayalah, jika kamu melibatkan Tuhan menjadi dasar yang kuat dalam memulai hubunganmu, maka hubungan yang kamu bangun akan kokoh dan menjadi berkat bagi hubungan-hubungan orang lain di luar sana.

Selamat menikmati proses bersama-Nya, Tuhan Yesus memberkatimu, sobat IGers!             


Ditulis Oleh : Arkt

Salahkah Jika Aku Ingin Dimengerti?

18:59

“Aku uda berusaha ngertiin kamu, tapi kenapa sih kamu ga pernah ngerti aku?”
Wahhh pasti familiar kan dengan kalimat penuh kontroversi tersebut? Siapa sih yang ga pernah ingin dimengerti? Hmmm apa lagi kaum hawa ya tentunya hehe. Pasti seneng banget nih dengan satu kata yang diawali dengan imbuhan “–di” ini. Banyak alasan yang mendasari anak muda untuk saling menyalahkan dan akhirnya berujung pada kesal dan diem-dieman.

Menuntut. Kata ini bisa jadi salah satu alasan nih. Seringkali penyebab suatu hubungan menjadi tidak harmonis, ya karena satu kata tersebut. Jika salah satu pihak menuntut untuk lebih dimengerti, lebih dipedulikan, lebih dikasihi, lebih dihargai, lebih dihormati, dan lebih lebih lainnya. Jika kita selalu maunya pake imbuhan “-di” terus kapan dong kita pakai imbuhan “-me”? Mengerti, memerdulikan, mengasihi, menghargai, menghormati itulah yang harusnya kita lakukan terlebih dahulu.

Sama seperti hak yang tidak akan bisa didapat jika tidak seimbang dengan kewajiban yang dilakukan. Dalam hubunganpun, perlu yang adanya batasan hak dan kewajiban antara kedua belah pihak. Kesepakatan untuk membuat hak dan kewajiban dalam berhubungan akan menjadikan suatu hubungan terhindar dari persoalan sepele. Coba deh bayangin, kadang kita ngerasa kalau sekali saja sudah mengerti pasangan kita, dan sebaliknya dia tidak mengerti kita, masakan langsung dituntun sedemikian rupa? Bahkan kadang tidak jarang, salah satu pihak yang merasa “korban tidak dimengerti” akan memutuskan hubungan tersebut secara sepihak.

Ingat anak muda, hubungan itu berbicara tentang komitmen. Jika kita sudah sepakat untuk menjalani suatu hubungan spesial dengan pasangan kita, apalagi memulai hubungan tersebut dalam doa, seharusnya kita harus bebas dari yang namanya “menuntut”. Karena alasan kita menjalin hubungan harus didasari oleh kasih. Kasih itu erat kaitannya dengan pengorbanan, jadi sekalipun kamu merasa dikecewakan, jangan sampai memutuskan hubungan yang sudah dijalin.

Bukan hubungannya yang putus, tapi keegoisannya lah yang harus dikikis. Sama seperti Kristus membentuk kita. TUHAN YESUS ga pernah memutuskan hubungan kita denganNya, sekalipun kita mengecewakannya berkali-kali, DIA selalu mengasihi kita dan menjaga hubungan BAPA dengan kita, anak-anakNya.

Seperti di Amsal 10:12, berkata bahwa “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.
So anak muda, jangan lagi mempermasalahkan tentang menuntut untuk lebih dimengerti. Hubungan kita harus didasari pada kasih, sama seperti BAPA kita yang teramat mengasihi kita. Jika hubungan dilandasi dengan kasih, percaya deh ga ada masalah yang sukar untuk didiskusikan dan dicari solusinya. Apalagi kalau kita membawa hubungan kita dalam tanganNya, dijamin deh kita akan didewasakanNya lewat setiap proses dalam hubungan kita.

Go ahead, Influence Generation !!! TUHAN YESUS mengasihimu ^^
           Ditulis Oleh : Arkt

Thursday, 11 January 2018

His Ways Are Higher: SWATDI KHA (1)

09:30
Aku berkuliah di program studi yang sampai kini masih kurang populer. Kurang populer bahkan di antara bidang studi sejenisnya. Jurusan yang hingga kini masih amat familier dengan pertanyaan-pertanyaan seperti:
 “Kalo lulus nanti jadi apa?”
 “Lho, bukannya gak kuliah pun bisa belajar itu ya?
“Kenapa kamu masuk jurusan itu?”
“Harusnya kamu masuk jurusan *** aja.”
Berkali-kali aku harus menepis perasaan minder yang menyeruak karena terus-terusan diperhadapkan dengan pertanyaan dan pernyataan di atas. Berkali-kali juga aku dikuatkan oleh orang-orang di sekitarku, juga orang tuaku untuk tidak meragukan jalan yang sudah Tuhan tentukan. Bisa berkuliah di kampus ini adalah sebuah anugerah tersendiri yang tak pantas kudapatkan. Aku tak pernah bisa mengeluh setiap mengingat cara Tuhan yang ajaib sehingga dapat menempatkanku di kampus ini. Meski demikian, perasaan ragu itu tetap ada. Bahkan memasuki semester ketiga, aku semakin sering berjumpa dengan mata kuliah yang menurutku secara pribadi, membuatku semakin meragukan dan menjauh dari Tuhan. Bagaimana tidak, mata kuliah yang kupelajari sering kali mengandalkan hikmat manusia dan kalaupun menyinggung tentang Tuhan, hal-hal tersebut bertentangan dengan iman yang kepercayai selama ini. Semakin lama semakin aku mempertanyakan keputusan Tuhan menempatkanku di jurusan ini. Meski demikian, ayahku sering berkata bahwa Tuhan akan memakaiku untuk memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa, dan aku pun mengamini hal itu. Tetapi seperti yang kukatakan, akhir-akhir ini aku mulai meragukan arah tujuanku.
Sejak awal masuk kuliah, aku mempunyai mimpi. Mimpi untuk bisa pergi ke luar negeri dengan membawa nama universitas. Orang tuaku pun mendukung mimpi itu. Terdengar sepele dibandingkan doa yang selalu ayahku ucapkan mengenai pergi ke bangsa-bangsa. Tetapi tetap saja bukan sebuah mimpi kecil yang bisa kuraih hanya dengan berdoa dan belajar giat. Paling tidak itulah yang selalu kupikirkan, mengingat keseharianku di kelas yang tidak sebanding dan sepintar teman-temanku. Satu hal lain yang sempat membuatku merasa minder adalah bahwa di antara teman-temanku, aku termasuk salah satu yang kurang menonjol dalam skill individu. Banyak dari temanku yang sudah pintar menari tarian tradisional, menyanyi lagu tradisional, biasa mementaskan pertunjukkan, menjadi MC, bahkan memiliki paket hemat, yaitu satu orang dengan banyak kemampuan di atas. Aku tidak akan heran kalau mereka didelegasikan untuk pergi ke luar negeri mewakili Indonesia, karena mereka akan tahu apa yang harus dilakukan untuk mengharumkan nama bangsa. Kalau aku? Apalah diriku, hanya seorang yang ‘kebetulan’ berdarah suku yang bidang bahasa dan sastra-nya kupelajari di kuliah. Terlalu banyak hal yang kujadikan alasan untuk meragukan kuasa Tuhan saat itu. Mana mungkin aku bisa pergi ke luar negeri dengan kondisi yang seperti ini?
Meski demikian, mimpi ini belum padam. Aku berusaha mencari informasi pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Bahkan salah seorang kakak gereja memberiku link yang berisi program exchange ke Amerika Serikat. Saat aku membaca program itu, mataku berbinar-binar. Berbekal berani bicara bahasa Inggris, aku merasa ada harapan untuk bisa pergi ke luar negeri tanpa mengeluarkan ongkos. Merasa rendah diri dengan keadaan, tapi pada saat yang sama merasa sombong sekali dengan kemampuan yang pas-pasan. Yap, kebodohan manusia diriku. Lupa bahwa semua masih dalam seizin Tuhan. Aku pun mencoba mengisi form yang ada.
Sampai suatu saat, kepala program studi jurusanku memintaku untuk menemui beliau. Beliau bertanya apakah aku bisa berbahasa Inggris aktif? Aku menjawab ya. Paling tidak jika harus berkomunikasi dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, aku masih bisa melakukannya dengan cukup percaya diri. Ini juga merupakan satu hal lagi yang sering dipertanyakan orang-orang sekitarku. Lebih lancar berbahasa Inggris, tapi malah ambil jurusan bahasa daerah. Singkat cerita, ibu kaprodi (sebutan untuk kepala program studi) bercerita bahwa aku akan dicalonkan untuk seleksi program short course di Thailand. Kaget? Iya. Bingung? Bingits. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, dan beberapa saat setelahnya, aku merasa seperti sedang melakukan talkshow dengan diriku sendiri.
“Bukankah Thailand termasuk luar negeri?”
Ya iyalah.
“Lantas, impianmu terwujud dongs?”
Eh, iya ya.
“Tapi kenapa Thailand? ...dan kenapa aku?”
 Mungkin, karena wajahku mirip orang Thailand? #plak (2)
Sementara masih terbingung-bingung, orang tuaku bertanya alasanku bertemu dengan ibu kaprodi. Aku pun bercerita bahwa diriku mungkin akan pergi ke Thailand kalau Wakil Dekan acc. Bukan, lebih tepatnya kalau Tuhan acc. Singkat cerita (lagi), aku terpilih di antara ketiga calon yang diajukan ibu kaprodi. Kedua orang lainnya adalah seniorku yang kudengar sudah jauh lebih berpengalaman dalam hal-hal mewakili kampus. Bahkan salah satunya belum lama menjadi anggota volunteer ke luar negeri mewakili kampus. Hanya satu hal yang terus terngiang di kepalaku bahkan sampai hari keberangkatanku ke Thailand. Aku tidak layak. Aku tidak pantas mendapatkan kesempatan ini. Aku, orang yang terlalu banyak mengeluh dan mempertanyakan keputusan Tuhan. Orang yang kadang lebih suka mengeluh dibanding mengejar ketinggalan teman-temannya. Aku terlalu sibuk merasa rendah diri, sampai tak bisa melihat bahwa Tuhan mengangkat dan merendahkan orang-orang sesuai kebajikan-Nya. Aku terlalu sombong sampai merasa bisa menentukan langkahku, dan lupa bahwa hidupku bukanlah dalam kehendakku. Aku hanya bisa terkagum-kagum bagaimana Tuhan menggerakan potongan-potongan puzzle dalam hidupku sekedar untuk menjawab segala keraguanku. Keraguanku tentang mengapa Tuhan menempatkanku di jurusan ini. Keraguanku untuk bisa ke luar negeri dengan keadaan seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menyombongkan diri, karena ini sama sekali bukanlah hasil usahaku. Yang terus kulakukan hanyalah menyampaikan kerinduanku pada Tuhan. Bahkan sebelum aku menyampaikannya, Tuhan terlebih dahulu mengerti isi hatiku. Bukan seperti yang kurancangkan, tetapi sesuai dengan apa yang berkenan di hadapannya. Serangkaian kejadian berikutnya pun merupakan keajaiban pekerjaan Tuhan semata. Segala proses dimudahkan bahkan seakan belum cukup, Tuhan mengirimkan orang-orang untuk memberkatiku. Program ini sepenuhnya ditanggung oleh pihak panitia, dan biaya keberangkatan-pulang ditanggung oleh pihak fakultas. Hanya uang saku yang perlu kusediakan sendiri. Dan ya, aku tak mengeluarkan sepeser pun dari dompetku, bahkan dompet orangtuaku. Seluruh uang saku merupakan kemurahan dari orang-orang yang hatinya Tuhan gerakkan untuk memberkatiku. Aku tak bisa berkata-kata. Dari kejadian ini aku benar-benar mengerti makna bahwa Kasih Karunia adalah sesuatu yang Tuhan berikan, bahkan pada saat kita berada dalam posisi yang amat sangat tidak layak untuk menerimanya. Keraguanku dihapuskan-Nya, dan pandanganku pun diubahkan. Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Tetap kerjakan bagian kita, dan lihat bagaimana Tuhan mengubah pertanyaan-pertanyaan kita menjadi ucapan syukur. Dia menghapuskan keraguan kita, dan menumbuhkan iman yang lebih kuat dari sebelumnya. Percayalah pada-Nya, dan tetap lakukan bagian kita.

 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  -Yesaya 55:8-9
Semoga bermanfaat bagi pembaca, terutama buat teman-teman yang masih ragu sama keputusan Tuhan, entah itu soal jurusan, kampus, keadaan keluarga, dsb. Mistakes are never in His to-do list, only goodness. God bless us.
Ditulis Oleh: Kezia Permata