Wednesday, 29 July 2015

Doa Yesus di Taman Getsemani

Ditulis oleh: Pdm. Inggrid Tan, SE, M.Pdk


Pergumulan di Getsemani adalah sebuah pergumulan yang sangat berat bagi Yesus. Pergumulan saat-saat terakhir menghadapi salib. Pergumulan untuk menanggung dosa dunia ini, Dia harus bergumul untuk kesalahan dan dosa umat manusia yang telah mengkhianati Allah.

1.      Doa Membuat Kita Mendapat Kekuatan
“Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
Dalam perjalanan iman kita sebagai orang Kristen, seringkali diperhadapkan pada situasi yang sangat sulit, sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Dalam keadaan ini kebanyakan orang berusaha menghindar dan lari dari kenyataan.
Saat Yesus berdoa di Taman Getsemani, Yesus tidak lari dari kenyataan, namun Yesus berdoa untuk mendapat kekuatan untuk dapat melaluinya. Pelajaran berharga yang dapat kita ambil adalah bahwa ketika kita berdoa, kita siap untuk menghadapi kenyataan yang terjadi atas kita. Dengan kata lain, Tuhan pun sedang mempersiapkan kita untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di depan kita. Ketika Yesus berada dalam pergumulan berat, Dia berdoa kepada Bapa di Surga. Ada orang yang berpendapat bahwa kekuatan dan kemenangan Yesus menghadapi penderitaan berwal dari doanya di Getsemani.
Pergumulan Yesus di Getsemani bukanlah pergumulan yang mudah, melainkan pergumulan yang sangat berat. “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Lukas 22:44)”.
Tentang peluh seperti titik-titik darah ini, menurut Dr. Frederick Zugibe (Kepala Penguji Medis dari Rockland Country, New York) kondisi ini istilah klinisnya adalah “hematohidrosis.” Kondisi ini adalah peristiwa keluarnya darah melalui kelenjar keringat seseorang yang disebabkan oleh kondisi stres yang sedemikian besar dan “rasa takut yang akut dan pergumulan mental dan emosional yang mendalam.”

2.      Doa Tidak Memaksakan Kehendak Kepada Bapa
Yesus sering mengajarkan bahwa doa Bapa bukanlah doa yang memaksakan kehendak. Banyak orang terjebak dan berkata: kita harus menekan Allah dengan iman yang kita punya, agar Dia mendengar kita.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Allah memiliki kewajiban untuk menjawab dengan cara yang kit inginkan atau hanya karena banyak orang yang berdoa. Ketika Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan menderita di Getsemani, Dia mengajukan permohonan dengan penyerahan yang rendah hati kepada Bapa-Nya dan berkata: “...jadilah kehendak-Mu” (Matius 26:42).
Prinsip doa di Getsemani itu harus mendominasi doa-doa kita. Kehendak Bapa selalu mengandung kasih dan hikmat yang tidak terbatas. Oleh karena itu, daripada memaksa Allah karena mengira bahwa Dia wajib menjawab doa yang kita kehendaki, seharusnya kita sebagai anak-anak yang percaya kepada-Nya dengan senang hati menyerahkan semua keinginan kita kepada-Nya. Apapun yang Dia anugerahkan akan terbukti menjadi berkat terbaik dalam hidup kita.

3.      Doa Membuat Kita dalam Keadaan Berjaga-jaga
Matius 26:41, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”
Tuhan Yesus menasihati para murid-Nya untuk senantiasa berjaga-jaga dan waspada karena sifat kedagingan manusia adalah lemah, mudah diperdaya:
a.       Berjaga-jaga secara rohani melalui doa. Membuat kita menjadi peka terhadap godaan yang mencoba menyeret kita. Doa membuat kita “tidak akan pernah menyerah” kepada kuasa kejahatan yang sedang bekerja di zaman ini.
b.      Prioritas Penggunaan Waktu

Yang paling berharga yang Allah telah berikan yaitu: Waktu. Hentikan membuang-buang waktu untuk melakukan hal-hal dimana Allah tidak memanggilmu untuk melakukannya. Luangkan waktumu dengan Tuhan. Berikan kepada-Nya yang pertama dan terbaik dari waktumu setiap hari.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah menulis komentar yang positif.