Saturday, 15 August 2015

Say No To Drugs !!!


Ade, papa mana? Terdengar suara lirih seorang abang yang aku sayang, abang yang mengisi hari-hari ku dengan segala keceriaan di masa kecil, ketika aku harus kehilangan mama saat aku berusia 9 tahun. Seorang abang yang terkenal keren, berkulit putih, berambut gondrong yang diikat rapi, dengan tinggi 188 cm, berat badan yang ideal, abanglah yang membuat aku disukai banyak wanita cantik yang selalu memberikan aku banyak cokelat dan boneka, untuk menarik perhatian abangku dengan mendekatiku sebagai adik kesayangannya. Abang selalu memasak cap-cay walau rasanya tidak enak, karena dia tahu bahwa aku suka cap-cay masakkan mama. Abang yang menggendongku ketika aku menangis keras karena anak anjing peliharanku mati, sampai aku tertidur pulas di pangkuannya. Abang yang rela menabung demi mengganti anak anjingku tersebut.
Tetapi kenyataan yang sekarang adalah abang yang aku sayang berbaring lemah, dengan rambutnya yang rontok, kulitnya yang kusam, warna mata yang pucat dan badan yang kurus sampai terlihat jelas seluruh tulang tubuhnya. Putaw, shabu-shabu itulah jenis obat terlarang yang membuat abangku tersayang terbaring lemah. Sekarang ini, setiap 5 menit dia memuntahkan gumpalan darah segar.
Mujizat!!! Itulah yang aku rasakan ketika aky tahu rasakan ketika aku tahu abangku yang sudah tiga minggu dalam keadaan koma di rumah sakit, tiba-tiba sadar setelah 27 jam aku tak tidur. Yahh, lucu sekali memang. Padahal waktu hanya terhitung sampai 24 jam, tetapi aku tidak pernah berhenti berdoa ketika aku tahu abangku menderita, aku mulai menghitung jam dan pada jam yang ke-27 ia sadar.
Aku langsung bilang ke dia, “Papa ada di luar.”
Itulah kebohonganku karena sebenarnya papa juga sedang terbaring di rumah sakit karena menderita kanker paru-paru stadium 4.
“Lalu, ade Wati dan Herman mana?”
“Di luar juga, Bang.” Jawabku sembari terus menahan air mataku. Sudah tak tertahankan air mataku, saat itu aku menangis. Kesedihanku bertambah karena semua keluargaku berada di Sumatera Utara.
Kemudian, hal yang membuat aku kaget adalah abang bertanya ke aku, “Mama mana dek?”
Aku mulai tau bahwa abangku lupa ingatan, narkoba membuat banyak syaraf otak yang terhubung satu dengan yang lain putus. Jelas bahwa sudah belasan tahun kami kehilangan mama, dan papa kami tidak pernah menikah lagi.
Aku tidak bisa menjawabnya lagi, lalu aku berkata: “Bang, ade sayang abang!”
Aku melihat air matanya mengalir dan berkata: “ Ade, abang minta maaf sama semuanya, abang yang salah!”
Kemudian dia mengajak aku bernyanyi. Aku masih ingat lagu kami di tengah kesusahan itu, “Ku mau cinta Yesus selamanya” Bukan hanya ngajak nyanyi tapi abang juga mengajak berdoa, berdoa supaya Tuhan mengampuni dan mengasihi abangku, berdoa meneguhkan abangku untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya.
Muntahan darah pekat keluar dari mulutnya, hnaya 15 menit waktuku bersamanya, setelah itu dia kembali koma. Imanku mulai goyah, iman yang membutaku kuat bahwa abangku bisa sembuh, iman yang membuatku mampu sendirian untuk merawat abangku di Jakarta. Karena tak satu pun kerabat, bahkan istrinya tidak mau merawatnya. Iman juga membuatku percaya bahwa Tuhan Yesus tetap bersamaku. Tetapi ketika aku melihat abangku mengeluarkan banya darah. Itulah yang membuatku stress, takut, marah, kecewa dan lain sebagainya, semuanya bercampur aduk di dalam hatiku. Aku terkadang berteriak “Where are you, Jesus?” Bukan hanya terkadang, mungkin sudah ratusan kali aku berteriak seperti itu. Aku mulai letih dan dokter memutuskan untuk mengeluarkan aku dari ruangan.
Aku duduk di depan pintu ruangan tempat abangku dirawat. Saat itu, aku diselimuti rasa sepi, hening dan kelam. Aku hampa, pikiranku kosong, hatiku sakit, bahkan sakit sekali sampai membuat tubuhku gemetar. Semua itu kurasakan sendiri, tidak ada keluarga, semua orang yang aku sayang telah pergi. Padahal, aku pingin sekali merasakan kebahagiaan dalam keluarga.
Aku mulai tertidur di lantai rumah sakit, di dalam mimpi aku mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus, Dia bertanya kepadaku.
Siapa yang menemukan abangmu ketika dia kabur dari pantai rehabilitasi? Siapa yang membawa abangmu ke rumah sakit ketika abangmu over dosis? Siapa yang membayar dan melunasi uang penobatan abangmu? Siapa yang memberikan hembusan nafas, dan kesadaran selama 15 menit agar abangmu bisa menerima Aku kembali? Semua ini terjadi karena Aku menjawab doamu.
Aku tidak menjawab-Nya, sampai aku merasakan damai sejahtera. Yah... hal yang paling berharga dari semua cobaan ini adalah Yesus menjawab doaku, Yesus terus bersamaku, walaupun aku tiada pernah menyadarinya. Dia di sisiku pada saat aku tidak tertidur, Dia di sisiku pada saat hatiku sakit sekali, Dia di sisiku pada saat tidak ada satu pun keluarga atau kerabat bersamaku. Dia tetap di sisiku.
Abangku kabur dari panti rehabilitasi jam 1 pagi, dia langsung menemui temannya untuk membeli sejumlah obat, lalu dia memakai terlalu berlebihan karena dia sudah cukup sakauw pada saat itu, lalu dia terjatuh di jalan dengan mulut berbusa karena over dosis.
Ada seorang wanita berbaju kemeja putih, dan celana panjang putih yang menemukannya ke rumah sakit, bahkan aku juga terkejut ketika aku ingin membayar sejumlah obat resep dokter di kasir, mereka bilang sudah ada yang menanggungnya. Kemudian, aku bertanya ke salah seorang suster, dia mengaku ada seorang wanita cantik berambut panjang yang datang dengan berpakaian kemeja putih, dan celana putih panjang. Dia menyerahkan sejumlah uang yang banyak dan cukup membiayai keperluan abangku. Jujur aku mulai takut dan merinding pada saat itu, tetapi aku pernah mendengar dari seorang kakak rohaniku berkata, Tuhan juga memiliki banyak stock malaikat di surga untuk menolong kita.
Yah, Dialah Yesus, yang kuasa dan mujizat-Nya tetap sama, bahkan memberikan garansi hidup untuk menyelamatkan jiwa yang tersesat, sebenarnya hal ini pernah saya bagikan kepada jemaat youth di Ngampilan dulu, tempat saya bertumbuh bersama Yesus untuk pertama kalinya. Saya bersyukur mempunyai ibu gembala yang baik seperti ibu Christine yang selalu mengutkan saya, dan memeluk saya ketika saya harus kehilangan abang. Dan itulah terakhir saya mengeluarkan air mata untuk kepergian abangku.
Saat ini saya sudah terbiasa hidup sendiri, melangkah, terjatuh, bangun, dan berlari sendiri. Tetapi ada satu Sahabat dan Kekasih jiwaku, Dialah Yesus yang tidak pernah meninggalkanku, sekalipun saya masuk lembah kekelaman saya tidak pernah takut, karena Yesus menolong saya. Rokok dan narkoba tidak ada gunanya. Rokok membuat papa tidak dapat bekerja aktif lagi, dia menghabiskan penghasilannya untuk mengobati kanker yang disebabkan oleh rokok. Papaku harus menjalani hidup mengkonsumsi 5 jenis obat dan 3 jenis suntikan setiap harinya, dan sejak SMU saya mulai bekerja untuk membantu papaku, bahkan sampai sampai kuliah saya tetap berusaha sendiri. Walaupun banyak kejatuhan, dan penolakkan terjadi padaku, saya tetap berjuang. Papaku pernah berkata, sampai pada saatnya tidak ada satu pun yang percaya dengan apa yang kamu katakan dan perbuat, percayalah Yesus selalu percaya padamu, jadi jangan mengecewaka-Nya. Saya tetap mencintai keluarga, hanya saja saya tidak ingin ada orang-orang yang mengalami kesedihan seperti yang saya alami. Harus bekerja memenuhi kebutuhan diri sendiri, dan kehilangan seorang abang yang sangat saya sayangi karena narkoba. Rokok dan narkoba hanya menghasilkan dosa dan kesengsaraan, berhentilah untuk mencoba-coba. Dan tidak kompromi terhadap rokok dan narkoba.


“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku.” (Mazmur 27:10)

(Caro)
Sumber: freshroad

No comments:

Post a comment

Terima kasih telah menulis komentar yang positif.