Monday, 24 July 2017

Ketika Sahabat Menyakiti Kita

Source : http://newscult.com

Shalom teman-teman yang dikasihi oleh Tuhan! Tidak terasa, kita sudah memasuki tahun ajaran baru. Bertemu kawan-kawan lama setelah dipisahkan oleh liburan semester, pasti rasanya asik sekali, ya! Apalagi, kita masih bisa bertemu dengan sahabat-sahabat kita, bagi yang satu sekolah dengan sahabat dekatnya. Belajar bersama, bermain bersama, dan hal lain yang bisa dilakukan bersama sahabat. Memiliki sahabat, ibaratkan seperti memiliki saudara dari orang tua yang berbeda. Sahabat adalah seseorang yang sangat memahami kita, baik buruk sifat kita, kebiasaan kita, hal yang kita suka, hal yang tidak kita suka, sampai rahasia-rahasia yang kita curahkan kepada sahabat. Tetapi, bagaimana jika sahabat yang sudah lama bersama kita, menyakiti kita?
            Sahabat adalah manusia biasa, kitapun juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Sahabat bisa dibilang adalah kekuatan sekaligus kelemahan kita. Apabila ada sahabat yang selalu ada untuk kita, mendukung kita, maka kita akan kuat. Sebaliknya, apabila sahabat kita menyakiti kita, mengkhianati kita, kita tentu akan lemah karenanya. Yesus sendiri pernah merasakan sakitnya dikhianati oleh murid-Nya, yaitu Yudas Iskariot. Pengkhianatan yang dilakukan Yudas sangat lembut, tetapi sungguh menyakitkan, yaitu menyerahkan Yesus hanya dengan ciuman (Luk 22: 47-48). Tuhan Yesus sangat sedih karena orang yang dikasihi-Nya, mengkhianati-Nya.
            Saya pernah merasakan disakiti oleh sahabat saya. Saya memiliki sahabat sejak saya TK. Saat SMA, sahabat saya memiliki masalah dengan seseorang. Saya ingin berespon benar dengan membantu mempertemukan sahabat saya dengan orang yang bersangkutan. Tetapi, bantuan saya malah menjerumuskan saya ke  masalah baru. Saya seperti tameng yang melindungi sahabat saya tersebut, saya penyok demi melindungi orang di balik saya. Saya sangat mengasihi sahabat saya tersebut, tetapi balasan sahabat saya malah memutarbalikkan fakta demi melindungi dirinya sendiri, sehingga saya yang bersalah. Ia bisa lolos dari masalahnya, tetapi kelolosan dia mengorbankan saya. Saya sempat marah dengannya, tetapi kemarahan saya membuat dia menyebarkan berita yang tidak benar tentang saya. Sakitkah saya diperlakukan seperti itu? Tentu saja. Tetapi saya hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi sahabat saya tersebut.
            Yesus mengajarkan untuk menyerahkan pembalasan kepada-Nya saja. Ada tertulis dalam Roma 12: 19, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan”. Dari ayat tersebut saya belajar bahwa saya tidak perlu membalas perlakuan sahabat kita yang menyakiti kita, karena kita tidak berhak untuk membalas perlakuannya. Apabila kita disakiti oleh sahabat kita, doakanlah ia agar ia memahami kesalahannya. Karena, apabila kita membalas perlakuan jahat dari sahabat kita, kita tidak ada bedanya dengan sahabat kita tersebut. Kita harus tetap berlaku baik dengan sahabat kita, dan biarkan Tuhan Yesus menentukan apa yang terjadi. Amin, Tuhan Yesus memberkati.

Ditulis oleh : Rucita W.

No comments:

Post a comment

Terima kasih telah menulis komentar yang positif.