Thursday, 24 August 2017

Merdeka

Image result for freedom

Merdeka


Kotbah dari Pdm. Maria Ong – Minggu, 24 Agustus 2017

Merdeka = kebebasan, tidak tergantung pada orang lain.
Walaupun kita hidup sebagai orang yang mereka yang memiliki kebebasan akan tetapi tetap ada batasannya, ada peraturan yang tidak boleh dilanggar.
Seperti yang dikatakan dalam Galatia 5:13 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”, ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus hidup sebagai orang yang merdeka yang melayani dengan kasih.
Dalam 1 Petrus 2:6 “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah”, ayat ini mengajarkan kepada kita untuk hidup merdeka yang hidup sebagai hamba Allah.
Dalam Kejadian 2:15-17 dijelaskan bahwa pada awalnya Tuhan menciptakan manusia sebagai manusia merdeka yang memiliki kehendak bebas, akan tetapi tetap ada aturan atau larangan atau batasan dari Tuhan. Batasan itu merupakan ide Tuhan, tidak ada kebebasan yang tidak kenal batas. Kenapa Tuhan memberi batasan kepada manusia? Karena Tuhan menginginkan manusia untuk dapat belajar menguasai diri. Penguasaan diri memiliki arti kebebasan yang bertanggung jawab.
Kita sebagai manusia sangat membutuhkan penguasaan diri, karena merdeka tanpa penguasaan diri akan membuat kita sangat mudah untuk jatuh ke dalam dosa.
Perasaan, pilihan, pemikiran, hasrat, cinta, talenta, sikap, tingkah laku, nilai itu yang menjadi tanggung jawab kita. Waktu kita tidak memiliki penguasaan diri, di sini kita disebut hilang kendali atas hidup kita, kita serahkan kepada orang lain, iblis, dll.
Lalu apa cara agar kita tidak hilang kendali dan mudah jatuh ke dalam dosa? Seperti yang tertulis dalam Matius 5:37 “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat”. Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa kita harus mengetahui kapan kita mengatakan ya dan kapan untuk mengatakan tidak.



Ditulis oleh: Elita Gabriella

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah menulis komentar yang positif.