Friday, 11 August 2017

Pengharapan yang Tak Berujung


Suhu yang sangat dingin membuat tubuh serasa merindukan panas. Netty memandang langit melalui teras rumahnya dengan penuh penghayatan. Wajah cantik yang sangat dikagumi banyak orang itu seolah bertanya pada benda langit yang malam itu menghiasi cakrawala. Tanpa ia sadari air mata mengalir deras pada wajahnya, menyiratkan seakan permasalahan tak dapat dia selesaikan. Netty berbisik “Beri aku petunjuk” lalu dia memejamkan matanya dan berkata dalam hati “Ini aku Tuhan bentuklah aku dan utuslah aku”. Air matanya pun tak dapat dibendung dan mengalir begitu deras. Netty memandang ke langit lagi dan ia memandang satu bintang yang dianggapnya sangat mengesankan baginya, dia memfokuskan matanya kepada benda langit yang satu itu, seperti tidak ada benda langit yang lain. Netty melihat bintang itu yang terlihat sangat jauh dibandingkan bintang lainnya dan ia mengganggap hanya itulah benda langit yang pada saat saangat unik, lalu Netty merasa ia menemukan jawaban akan persoalannya.

Netty masuk ke rumah lalu ia melihat jam dinding yang terus berputar tanpa lelah dan menyadari bahwa sudah lama ia merenung di luar rumah. Semakin malam cuaca semakin dingin, ia bergegas mencari baju hangatnya dan tidak menemukannya, ia memanggil adiknya paling bontot, katanya “Kez... Kez....” tapi dia tidak melihat dan tidak  mendengar suara adik yang sangat dia sayangi itu. Netty menggumam Kok tumben jam segini Kez tidak di rumah? Di mana aku harus mencarinya?. Sekali lagi dengan suara yang keras Netty memanggil adiknya  “Kezya.....Kezya “ sambil berjalan ke semua ruangan yang ada di rumah. Netty menemukan adiknya sedang tidur dengan nyenyak di kamarnya, dalam hati Netty berkata Mungkin Kezya kecapean” lalu ia mencium kening adiknya dan berbisik “Selamat tidur ya adikku sayang, mimpi indah”. Netty pun keluar dari kamar adiknya dan menuju kamar tidurnya. Setelah menutup kamarnya itu, dia duduk di kursi depan meja belajarnya lalu mengambil sebuah buku; sepertinya itu buku hariannya yang biasa dia gunakan untuk mengungkapkan isi hatinya. Buku itu seperti tempat curahan hati Netty, segala hal yang dia alami selalu diungkapkan dalam buku tersebut. Buku itu terdapat pembatas untuk memisahkan antara tempat curhatan dengan rangkuman ayat-ayat Alkitab yang selalu dibacanya dengan teratur setiap hari. Netty merenung sebentar dan mengambil Alkitab dan ia membuka lembaran Alkitab yang dibuat batas untuk menunjukkan dari mana dia akan memulai bacaannya. Dia membaca satu persatu ayat Alkitab tersebut dan  menuliskan rangkuman serta inti dari bacaan tersebut ke dalam buku harianya dan tak lupa Netty  memberi tanda warna pada ayat Alkitab yang dianggapnya inti dari firman Tuhan itu
Setelah selesai membaca Alkitab dan merangkumnya, Netty melipat tanganya dan menutup matanya, mengangkat pujian rohani kesukaanya yang pada saat itu sangat cocok dengan perkara yang sedang dia alami:

“PENUH HARAPAN”
Tuhan mengasihiku, Dia pegang masa depanku
Tak pernah ku ragu, ku berharga di mata-Nya
Ku kan terus bertekun, mengejar semua harapanku
Mengejar semua citaku
Kupunya masa depan yang penuh harapan
Tuhan menjamin hidupku,
asalku tetap setia
Memandang terus ke
depan
Kuyakin Tuhan menopan
gku...

Air mata yang tak terbendung lagi-lagi menghampirinya. Dia merasa tidak sanggup lagi menahan segala perkara yang dihadapi. Dalam tangis dia berdoa. Kata-kata yang sangat simple dia katakan dalam doanya “INI AKU TUHAN BENTUK DAN UTUSLAH AKU”. Sebenarnya Netty lagi mengalami perkara dalam hidupnya yakni tentang tujuan hidupnya. Netty dulunya bercita-cita menjadi hamba Tuhan atau yang biasa dikenal dengan sebutan “Pendeta” tetapi hari demi hari, dia merasa tidak terpanggil dalam profesi tersebut. Setelah mengubur mimpinya tersebut, Netty pun mendaftarkan dirinya ke UNIMED (Universitas Negeri Medan), UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) dan UNESA (Universitas Negeri Surabaya), tetapi apa boleh buat, berita yang tidak ingin dia dengarkan itu harus diterima dengan lapang dada. Netty merasakan kepedihan dalam hatinya dan dia merasa takut akan masa depannya. Netty ingin melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus dari SMA Methodist 8 Medan, tetapi apa boleh buat Tuhan berkata lain. Netty mencoba memberi tahu pada orang tuanya tentang rencananya untuk melanjut ke Universitas swasta, namun keraguan timbul di hatinya. Netty mengerti jelas bagaimana kondisi ekonomi keluarganya. Netty berhenti berfikir tentang masa depanya itu. Netty sangat merasa lelah dan memutuskan untuk pergi tidur. Netty pun tertidur nyenyak dengan wajah yang melepaskan segala perkara yang dialami. Dia tidak ingin malamnya kali ini diganggu dengan problem yang itu-itu saja. Netty hanya berserah pada Tuhan, dia yakin bahwa apa pun yang dia alami adalah rancangan Tuhan dalam hidupnya dan dia percaya 100% bahwa semuanya akan indah pada waktunya dan yakin bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik baginya
Suasana pagi yang cerah disertai suara burung yang berkicau memperindah suasana pagi itu, membuat Netty masih terlelap dalam tidur panjangnya. Ibu Netty (Maria) memanggil Netty tetapi dia tak melihat batang hidung putrinya itu. Ibunya melangkahkan kaki menuju kamar Netty dan didapatinya putrinya tersebut masih tertidur pulas. Ibu Maria membiarkan anaknya itu tertidur dan keluar dari kamar. Tidak lama kemudian Netty terbangun dan menyadari bahwa matahari sudah menampakkan diri, dia pun bergegas menuju ruang dimana biasanya keluarganya menghabiskan waktu di pagi hari ditemani teh manis dan makanan ringan. Netty menghampiri keluarganya yang sudah duduk di kursi tamu di ruang tengah, dia menyapa keluarganya dengan muka yang masih ngantuk ditambah senyum paksa, “Selamat pagi Papa, Mama, Adik” katanya sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tradisi yang selalu dilakukan tiap pagi oleh keluarga Netty adalah duduk di ruang tengah sambil menikmati makanan ringan dan minum bersama kurang lebih 20 menit. Pagi itu Ibu Maria memulai pembicaran “Kak kamu mau lanjut kemana lagi, apa kamu mau langsung kerja saja? (tanya Ibu Maria dengan muka yang penasaran). “Mmm... aku sih Ma, Pa mau lanjut tapi..... “ jawab Netty. “Tapi apa nak?” sahut ayahnya. “Ma, Pa sebenarnya kakak ingin melanjut keperguruan tinggi tapi karena berhubung kakak udah coba ke universitas negeri tapi tidak ada yang lulus, kakak ingin mencoba mendaftar ke universitas swasta, tapi Ma, Pa biaya di swasta itu sangat mahal, kakak takut kita tidak sanggup membayar segala dana yang akan diperlukan. Jadi satu tahun ke depan kakak akan menganggur atau kalau bisa kakak cari kerja dulu Ma, Pa... Nanti uangnya akan kakak kumpul untuk les tambahan agar tahun depan kakak bisa melanjut dan kakak akan belajar lebih sungguh-sungguh lagi agar kakak bisa masuk universitas negeri” (kata-kata itu begitu saja keluar dari mulut Netty tanpa dia sadari, tapi yang pasti dia mencoba untuk tidak membebani keluarganya walaupun ada rasa ketidakpuasan dalam dirinya. Netty mencoba menghibur orang tuanya dengan mengatakan akan kerja dulu baru kuliah padahal Netty ingin langsung kuliah agar cepat bekerja nantinya, dia tidak ingin menyiayiakan waktunya, tapi apa daya kondisi ekonomi menjadi penghalang cita-cita Netty. Dari hasil keputusan bersama akhirnya Netty memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Netty sebenarnya ragu akan tujuannya ke Jakarta dan masih berharap akan ada Mujizat yang terjadi. Netty sementara tinggal di rumah pamannya di Jakarta. Setelah membuang waktu kurang lebih setengah bulan, dengan bermodalkan nekat dan iman kepada Tuhan dia akhirnya berangkat ke Yogyakarta. Setibanya di Jogja, Netty mencoba menggali informasi yang banyak tentang kota  pendidikan itu. Netty akhirnya mencari pekerjaan agar dapat membiayai hidupnya karena dia tidak memiliki banyak dana untuk bertahan lama di Yogyakarta. setelah perjuangan yang melelahkan itu akhirnya Netty menemukan pekerjaan di Mall Ambarukmo sebagai cleaning service. Netty mencoba bersyukur buat pekerjaannya sekarang, walaupun pekerjaan ini tak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya, tapi itu tidak membuatnya patah semangat. Satu hal yang tidak pernah dia lupakan bahwa Tuhan punya jalan jauh lebih dari apa yang dipikirkan olehnya. Sambil bekerja Netty mencoba menggali info lebih lagi tentang perkuliahan di kota tersebut.
Suatu minggu ada kerinduan yang sangat mendalam dalam hati Netty untuk pergi ke gereja tapi dia bingung mau ibadah ke mana karena Netty tidak memiliki kendaraan. Netty bukanlah orang yang pasif terhadap gereja, sebelumya dia adalah orang yang aktif dalam kegiatan rohani seperti bergabung dalam Perkumpulan Pemuda Pemudi Methodist Indonesia (P3MI), menjadi guru sekolah minggu, dan ikut dalam pelayanan, tetapi karena sibuk dengan urusan akan masa depannya membuat Netty tidak pernah beribadah.
Netty mencoba mencari dari internet, gereja terdekat dari kostnya yang berada dekat Mall Ambarukmo, dia menemukan gereja bernama Gereja Kristen Jawa (GKJ) yang ibadah jam 10 pagi, Netty cepat-cepat bergegas untuk berangkat ke gereja tapi kondisi alam berkata lain seolah-olah ingin menggagalkan rencana baiknya. Netty tak dapat berbuat apa-apa lagi, kondisi di luar sedang hujan deras disertai ngamukan petir. Dia hanya bisa duduk menghadap halaman luar berharap hujan akan berhenti sebelum jam 10, lama dinanti tak kunjung reda juga, alhasil Netty tidak jadi pergi. Kerinduan Netty tak pudar walaupun hujan masih saja turun sampai jam 11, dia lagi-lagi mencari gereja lainnya dari om google dan saat itu juga mata Netty terarah pada satu web yakni Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan membuka web tersebut dan didapati jadwal ibadahnya yakni jam 18:00 (ibadah youth). Waktu menunjukkan jam 17.20, Netty lalu berangkat ke gereja GBI yang tepat berada di Lippo Plaza. Netty sangat menikmati sepanjang ibadah, rasa rindunya pada Tuhan dia ungkapkan dengan air matanya. “Tuhan aku merasakan kehadiran-Mu, thanks God, thanks banget Tuhan” katanya dalam hatinya. Ada satu hal istimewa yang Netty rasakan pada saat ibadah tersebut, dia merasakan memiliki keluarga baru karena pada saat ibadah, orang yang baru pertama kali ibadah diajak untuk memperkenalkan diri dan pastinya diajak untuk masuk komuitas yang baik yakni FResH. Setelah pulang ibadah, Netty langsung dikelilingi oleh sekelompok orang yang membuatnya bingung. Mereka menyalami Netty sambil mengucapkan “Selamat hari minggu dek, selamat bergabung ya” mereka lalu mengajak Netty makan, namun ditolaknya (bukan karena ia tidak lapar, tetapi karena ia tidak memiliki uang yang cukup). Saat itu terdengar suara (asal suara dari orang yang berkumpul mengelilingi Netty) orang yang kelihatan rapi dan menurut Netty dia adalah orang yang tadi menjadi WL (menyalami Netty dan mengajak Netty makan) mengatakan “Hallo dek, namanya siapa? Netty menjawab “Hallo juga kak, nama saya Netty” Oh nama kamu Netty dek (seolah memperjelas perkataan Netty). Kakak yang sering disebut mereka dengan “Mama Batak” itu langsung menggenggam tangan Netty dan berkata “Kali ini kamu ikut makan sama kita ya dek, kakak yang traktir ya (seolah-olah mengerti kondisi keuangan Netty). Karena tidak dapat menolak lagi akhirnya Netty ikut bersama sekelompok orang itu dan dia juga diantar pulang sampai ke kostnya. Setelah sampai di kost, Netty tidak dapat mengungkapkan betapa senangnya dia saat ibadah tadi dan sambutan sekelompok orang tadi.
Pagi hari disambut dengan suara burung-burung yang berkicau di cakrawala, membangunkan Netty dari tidur lelapnya. Dia melihat jam dan langsung bersiap-siap untuk pergi kerja. Netty tampak berbeda dari hari sebelumnya, mukannya sangat cerah penuh dengan senyuman (seolah-olah menemukan harapan baru). Bunyi handphone-nya membuat mata Netty terarah ke sumber suara dan didapatinya pesan Line atas nama Mega, lalu ia membuka foto profil  line tersebut. Ia tersadar kalau foto tersebut adalah foto orang yang mengantarnya pulang ke kost kemarin. Setelah chatting panjang lebar, kak Mega menyinggung tentang tujuan Netty datang ke Yogyakarta (Netty bingung sejenak, dia berpikir apakah dia akan menceritakan semua tentang masalah yang sedang ia alami) tapi hati Netty berkata kalau kak Mega tersebut dapat membantunya menyelesaikan masalah yang dia alami, satu hal yang dia percaya kalau Tuhan sedang pakai kak Mega untuk menjadi alat-Nya untuk membantu Netty. Akhirnya Netty menceritakan pada kak Mega semua yang dia alami dan ada satu pertanyaan yang dia tanyakan kepada kak Mega tentang perkuliahan yang murah dan dapat bekerja sambil kuliah.

Kak Mega merupakan orang yang lahir baru dalam Tuhan. Kak Mega memiliki misi untuk menjangkau jiwa-jiwa sebanyak mungkin agar mereka juga merasakan apa yang dirasakan olehnya. Kak Mega merasa tergerak untuk membantu Netty dan dia mencari universitas-universitas yang memiliki syarat seperti yang diungkapkan oleh Netty. Setelah mencari lewat internet, bertanya kepada teman-temannya, dan mensurvei langsung ke kampusnya, kak Mega menemukan satu kampus yang dianggap murah dan dapat kuliah sambil kerja yakni Universitas Mercu Buana (UMB). Kak Mega pun memberitahukan hal itu pada Netty dan membawanya ke kampus tersebut. Netty yang merasa nyaman dengan kampus tersebut langsung mendaftar di sana. Netty merasa tak ada yang dapat dia lakukan untuk membalas kebaikan kak Mega, dia hanya dapat mengungkapkan kata terima kasih pada kak Mega. Kak Mega juga merasa senang dapat membantu orang yang memerlukan bantuanya dan tidak lupa kak Mega juga selalu berkomunikasi dengan Netty lewat dunia maya serta mengajaknya untuk ikut Fresh.
            Netty merasa terberkati karena perbuatan yang dilakukan Kak Mega, sejak saat itulah Netty merasa diubahkan hidupnya menjadi pribadi yang baik. Misi yang sama dengan Kak Mega pun mulai tertanam di hatinya. Netty sangat merindukan jiwa-jiwa yang akan diubahkan melalui kehidupannya.
            Demikianlah hidup Netty menjadi berkat bagi setiap orang, melalui kesaksiannya orang yang berada di sekitarnya merasa terberkati. Dalam keterbatasan ekonomi, tidak membuat Netty menjadi lemah melainkan dia dapat membantu orang lain lewat keterbatasanya. Setiap awal bulan Netty selalu menyiapkan uangnya dan memberikan apa yang menjadi kewajibannya ke gereja dalam bentuk perpuluhan.

(Bersambung) 


Ditulis Oleh : Tiurmala

No comments:

Post a comment

Terima kasih telah menulis komentar yang positif.