Thursday, 11 January 2018

His Ways Are Higher: SWATDI KHA (1)

Aku berkuliah di program studi yang sampai kini masih kurang populer. Kurang populer bahkan di antara bidang studi sejenisnya. Jurusan yang hingga kini masih amat familier dengan pertanyaan-pertanyaan seperti:
 “Kalo lulus nanti jadi apa?”
 “Lho, bukannya gak kuliah pun bisa belajar itu ya?
“Kenapa kamu masuk jurusan itu?”
“Harusnya kamu masuk jurusan *** aja.”
Berkali-kali aku harus menepis perasaan minder yang menyeruak karena terus-terusan diperhadapkan dengan pertanyaan dan pernyataan di atas. Berkali-kali juga aku dikuatkan oleh orang-orang di sekitarku, juga orang tuaku untuk tidak meragukan jalan yang sudah Tuhan tentukan. Bisa berkuliah di kampus ini adalah sebuah anugerah tersendiri yang tak pantas kudapatkan. Aku tak pernah bisa mengeluh setiap mengingat cara Tuhan yang ajaib sehingga dapat menempatkanku di kampus ini. Meski demikian, perasaan ragu itu tetap ada. Bahkan memasuki semester ketiga, aku semakin sering berjumpa dengan mata kuliah yang menurutku secara pribadi, membuatku semakin meragukan dan menjauh dari Tuhan. Bagaimana tidak, mata kuliah yang kupelajari sering kali mengandalkan hikmat manusia dan kalaupun menyinggung tentang Tuhan, hal-hal tersebut bertentangan dengan iman yang kepercayai selama ini. Semakin lama semakin aku mempertanyakan keputusan Tuhan menempatkanku di jurusan ini. Meski demikian, ayahku sering berkata bahwa Tuhan akan memakaiku untuk memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa, dan aku pun mengamini hal itu. Tetapi seperti yang kukatakan, akhir-akhir ini aku mulai meragukan arah tujuanku.
Sejak awal masuk kuliah, aku mempunyai mimpi. Mimpi untuk bisa pergi ke luar negeri dengan membawa nama universitas. Orang tuaku pun mendukung mimpi itu. Terdengar sepele dibandingkan doa yang selalu ayahku ucapkan mengenai pergi ke bangsa-bangsa. Tetapi tetap saja bukan sebuah mimpi kecil yang bisa kuraih hanya dengan berdoa dan belajar giat. Paling tidak itulah yang selalu kupikirkan, mengingat keseharianku di kelas yang tidak sebanding dan sepintar teman-temanku. Satu hal lain yang sempat membuatku merasa minder adalah bahwa di antara teman-temanku, aku termasuk salah satu yang kurang menonjol dalam skill individu. Banyak dari temanku yang sudah pintar menari tarian tradisional, menyanyi lagu tradisional, biasa mementaskan pertunjukkan, menjadi MC, bahkan memiliki paket hemat, yaitu satu orang dengan banyak kemampuan di atas. Aku tidak akan heran kalau mereka didelegasikan untuk pergi ke luar negeri mewakili Indonesia, karena mereka akan tahu apa yang harus dilakukan untuk mengharumkan nama bangsa. Kalau aku? Apalah diriku, hanya seorang yang ‘kebetulan’ berdarah suku yang bidang bahasa dan sastra-nya kupelajari di kuliah. Terlalu banyak hal yang kujadikan alasan untuk meragukan kuasa Tuhan saat itu. Mana mungkin aku bisa pergi ke luar negeri dengan kondisi yang seperti ini?
Meski demikian, mimpi ini belum padam. Aku berusaha mencari informasi pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Bahkan salah seorang kakak gereja memberiku link yang berisi program exchange ke Amerika Serikat. Saat aku membaca program itu, mataku berbinar-binar. Berbekal berani bicara bahasa Inggris, aku merasa ada harapan untuk bisa pergi ke luar negeri tanpa mengeluarkan ongkos. Merasa rendah diri dengan keadaan, tapi pada saat yang sama merasa sombong sekali dengan kemampuan yang pas-pasan. Yap, kebodohan manusia diriku. Lupa bahwa semua masih dalam seizin Tuhan. Aku pun mencoba mengisi form yang ada.
Sampai suatu saat, kepala program studi jurusanku memintaku untuk menemui beliau. Beliau bertanya apakah aku bisa berbahasa Inggris aktif? Aku menjawab ya. Paling tidak jika harus berkomunikasi dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, aku masih bisa melakukannya dengan cukup percaya diri. Ini juga merupakan satu hal lagi yang sering dipertanyakan orang-orang sekitarku. Lebih lancar berbahasa Inggris, tapi malah ambil jurusan bahasa daerah. Singkat cerita, ibu kaprodi (sebutan untuk kepala program studi) bercerita bahwa aku akan dicalonkan untuk seleksi program short course di Thailand. Kaget? Iya. Bingung? Bingits. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, dan beberapa saat setelahnya, aku merasa seperti sedang melakukan talkshow dengan diriku sendiri.
“Bukankah Thailand termasuk luar negeri?”
Ya iyalah.
“Lantas, impianmu terwujud dongs?”
Eh, iya ya.
“Tapi kenapa Thailand? ...dan kenapa aku?”
 Mungkin, karena wajahku mirip orang Thailand? #plak (2)
Sementara masih terbingung-bingung, orang tuaku bertanya alasanku bertemu dengan ibu kaprodi. Aku pun bercerita bahwa diriku mungkin akan pergi ke Thailand kalau Wakil Dekan acc. Bukan, lebih tepatnya kalau Tuhan acc. Singkat cerita (lagi), aku terpilih di antara ketiga calon yang diajukan ibu kaprodi. Kedua orang lainnya adalah seniorku yang kudengar sudah jauh lebih berpengalaman dalam hal-hal mewakili kampus. Bahkan salah satunya belum lama menjadi anggota volunteer ke luar negeri mewakili kampus. Hanya satu hal yang terus terngiang di kepalaku bahkan sampai hari keberangkatanku ke Thailand. Aku tidak layak. Aku tidak pantas mendapatkan kesempatan ini. Aku, orang yang terlalu banyak mengeluh dan mempertanyakan keputusan Tuhan. Orang yang kadang lebih suka mengeluh dibanding mengejar ketinggalan teman-temannya. Aku terlalu sibuk merasa rendah diri, sampai tak bisa melihat bahwa Tuhan mengangkat dan merendahkan orang-orang sesuai kebajikan-Nya. Aku terlalu sombong sampai merasa bisa menentukan langkahku, dan lupa bahwa hidupku bukanlah dalam kehendakku. Aku hanya bisa terkagum-kagum bagaimana Tuhan menggerakan potongan-potongan puzzle dalam hidupku sekedar untuk menjawab segala keraguanku. Keraguanku tentang mengapa Tuhan menempatkanku di jurusan ini. Keraguanku untuk bisa ke luar negeri dengan keadaan seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menyombongkan diri, karena ini sama sekali bukanlah hasil usahaku. Yang terus kulakukan hanyalah menyampaikan kerinduanku pada Tuhan. Bahkan sebelum aku menyampaikannya, Tuhan terlebih dahulu mengerti isi hatiku. Bukan seperti yang kurancangkan, tetapi sesuai dengan apa yang berkenan di hadapannya. Serangkaian kejadian berikutnya pun merupakan keajaiban pekerjaan Tuhan semata. Segala proses dimudahkan bahkan seakan belum cukup, Tuhan mengirimkan orang-orang untuk memberkatiku. Program ini sepenuhnya ditanggung oleh pihak panitia, dan biaya keberangkatan-pulang ditanggung oleh pihak fakultas. Hanya uang saku yang perlu kusediakan sendiri. Dan ya, aku tak mengeluarkan sepeser pun dari dompetku, bahkan dompet orangtuaku. Seluruh uang saku merupakan kemurahan dari orang-orang yang hatinya Tuhan gerakkan untuk memberkatiku. Aku tak bisa berkata-kata. Dari kejadian ini aku benar-benar mengerti makna bahwa Kasih Karunia adalah sesuatu yang Tuhan berikan, bahkan pada saat kita berada dalam posisi yang amat sangat tidak layak untuk menerimanya. Keraguanku dihapuskan-Nya, dan pandanganku pun diubahkan. Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Tetap kerjakan bagian kita, dan lihat bagaimana Tuhan mengubah pertanyaan-pertanyaan kita menjadi ucapan syukur. Dia menghapuskan keraguan kita, dan menumbuhkan iman yang lebih kuat dari sebelumnya. Percayalah pada-Nya, dan tetap lakukan bagian kita.

 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  -Yesaya 55:8-9
Semoga bermanfaat bagi pembaca, terutama buat teman-teman yang masih ragu sama keputusan Tuhan, entah itu soal jurusan, kampus, keadaan keluarga, dsb. Mistakes are never in His to-do list, only goodness. God bless us.
Ditulis Oleh: Kezia Permata

No comments:

Post a comment

Terima kasih telah menulis komentar yang positif.